Pemuda dengan Lelucon Buruknya

Photo by Tirachard Kumtanom on Pexels.com

“Berpegangan pada dunia, yang tanganmu saja tidak cukup luas untuk mengenggamnya, sama seperti berpegangan pada ranting kayu yang rapuh. Saat badai datang, ranting itu tidak akan bisa menyelamatkanmu. Satu-satunya yang bisa kau lakukan hanyalah membangun pondasi di dalam dirimu sendiri, dan berpegang teguh padanya. Akan ada saatnya, dirimu adalah satu-satunya orang yang dapat kau andalkan. Maka dari itu, jadilah kuat, untuk dirimu sendiri.” Ucap pemuda bertubuh tinggi, kurus, bermata sayu, dan berambut cepak itu. Mata sayunya menatapku tenang. Sesekali berkedip, kemudian menatapku lagi. Aku tidak ingin berhadapan dengan mata itu. Matanya yang dalam, memberiku perasaan kalau-kalau aku akan tersesat di sana jika kucoba memandanginya terlalu lama. Sebagai gantinya, memandang langit atau pemandangan dunia nyata yang semu di depanku adalah alternatif.

Kapanpun aku merasa sendirian, pemuda itu selalu muncul entah dari mana. Seketika mengusir kegelapan yang hendak menelanku hidup-hidup. Dia lebih suka duduk dengan menjaga jarak, diam dan tenang. Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Membiarkan diri kami sendirian, berdua. Jika dirasa terlalu lama, dia akan mulai bercerita. Mengatakan Apapun. Bahkan lelucon buruk dan tertawa sendiri karenanya. Entah, dia membuat lelucon untuk menghiburku atau dirinya sendiri. Tapi, aku akan mulai ikut tersenyum, dan tertawa. Sejujurnya aku lebih sering tertawa melihatnya yang seperti itu. Wajahnya yang memerah saat dia terlampau lama menertawai lelucon buruknya, mengigatkanku akan bagaimana muka monyet-monyet Jepang yang memerah karena berendam air panas alam di kala musim dingin yang pernah aku lihat di televisi. Bedanya, dia ini manusia yang kurasa  cukup tampan. Kulitnya putih bersih, lebih bersinar daripada kulitku yang kecoklatan. Harga diriku sebagai seorang wanita rasanya terluka karenanya.

Dia selalu berhasil membuatku lupa sesedih apa diriku sebelumnya. Pertemuan kami pun seperti takdir. tapi bukankah apapun yang terjadi di dunia ini memang sudah jalannya takdir?

Kami bertemu lima bulan yang lalu. Saat itu, seperti biasa, saat hariku sangat buruk, aku akan pergi ke taman kota. Duduk di bangku yang tempatnya agak jauh dari keramaian. Memutar The Smiths — Heaven Knows I’m Miserable Now melalui earphones. Meresapi liriknya dan merasa memang sepertinya lagu itu ditulis untuk orang-orang sepertiku.

Two lovers entwined pass me by

And heaven knows I’m miserable now

I was looking for a job, and then I found a job

And heaven knows I’m miserable now

In my life

Oh, why do I give valuable time

To people who don’t care if I live or die?

Mengetuk-ngetukkan jariku seirama dengan beat lagunya di pegangan bangku. Sialan. Jika hidupku adalah film, lagu ini mungkin akan menjadi lagu latar belakangnya. Sembari melihat hiruk-pikuk taman di Senin sore, sepulang dari pekerjaan yang melelahkan dengan gaji yang seolah mejadi penumpang kereta yang siap pergi ke tujuannya masing-masing, dangan kantongku yang hanya sebagai stasiun pemberangkatan mereka. Cuaca cerah. Stand-stand makanan dengan asap yang mengepul berjejer sepanjang pagar taman, sepasang kakek-nenek dengan anjing putih kecil berbulu lebat dengan kuncir berpita pink, segerombol remaja dengan skateboard mereka, dan beberapa pekerja lelah sepertiku — dilihat dari baju seragam yang tampak lusuh, raut muka dan cara mereka melihat dengan tatapan hah.. baru hari Senin ya—  Tidak banyak pengunjung. Tentu saja, karena saat itu baru hari senin.

Saat aku sedang tersesat di dalam alunan musik, seorang pemuda datang dan duduk di ujung bangku yang sedang kududuki. Hanya diam. Tanpa menghiraukanku, seolah aku tidak pernah ada di sana. Tapi terbaca jelas dari raut mukanya bahwa dia sedang kebingungan. Mengenakan jaket kain tertutup rapat di sore yang cerah. Memegangi perutnya seperti jika tidak dipegang, perut buncitnya bisa saja terjatuh. Aneh.. pikirku. Dilihat dari bentuk badanya yang kurus kenapa perutnya buncit? Walaupun duduk berseberangan dengan pria aneh membuatku canggung, aku masih tidak berniat untuk segera beranjak dari tempat dudukku. Aku yang terlebih dahulu menduduki bangku ini, jika seandainya salah satu dari kami harus pergi, maka dialah yang harus pergi. Jika dia seorang penculik atau pembunuh, target sepertiku tidak akan menguntungkannya, pikirku. Jadi, biarlah. Setelah beberapa lama, dengan keragu-raguan dia menanyaiku apakah aku mempunyai makanan, sepotong roti atau apapun itu. Kukatakan aku tidak memilikinya, sesaat aku pikir dia adalah tunawisma yang kelaparan. Jadi aku memintanya untuk menunggu sebentar selagi aku membeli makanan di minimarket seberang jalan tidak jauh dari taman. Dalam perjalanan cepatku, kurasa orang itu masih muda dan tampak sehat, mengapa tidak gunakan itu dengan sebaik-baiknya dan berhenti meminta-minta? Dan kenapa aku malah memintanya untuk menunggu selagi membelikan makanan untuknya padahal aku juga belum makan dari tadi pagi?!! Memikirkannya membuatku kesal sendiri. Kuputuskan membeli dua bungkus roti berukuran sedang dan dua bungkus susu kotak. Paket sarapan bergizi dan termurah ala pemudi kantong tipis sepertiku. Sesegara mungkin aku kembali. Pemuda itu masih di sana. Tanpa bergerak sedikitpun. Aku sodorkan roti dan susu yang sudah terbeli. Bukannya segera menerimanya, pemuda itu malah membuka ritsletingnya, dan seperti mengeluarkan sesuatu di perut yang sedari tadi dipengangginya. Aku mundur perlahan namun tak bisa lari, aku membeku dan tak bisa berpikir jernih, setelah kubelikan makanan apakah dia akan menembakku? Atau menusukku? Benda tajam apa yang akan dikeluarkannya? Memang seharusnya aku mengesampingkan egoku dan pergi saja dari awal. Mungkin ini semua tidak akan terjadi. Aku panik dan hampir berteriak tepat sebelum dia menutup mulutku lalu kemudian perlahan mengelurkan benda itu dari jaketnya, yang ternyata adalah.. kucing yang basah kuyup dan sebesar Garfield. Hampir mati ketakutan diriku dibuatnya.

Dia mengambil makanan yang terjatuh dari pegangganku, membukanya dan memberikannya pada si kucing yang tampaknya sangat kelaparan. Masih di dalam kepanikan dan kebingungan, dia menyuruhku duduk. Setelah momen memberi makan kucingnya, pemuda itu menceritakan padaku kalau dia menemukan kucing itu terjebak di dalam selokan di sekitar taman. Dan langsung menghangatkannya di dalam jaket. Dia bilang dia sedang tidak membawa uang sepeser pun untuk membelikan kucing itu makanan. Menjelaskan kenapa tadi mukannya terlihat kebingungan. Kemudian mengucapkan terimakasih karena telah membantunya.

Aku lega mengetahui ternyata pemuda itu bukan penculik, pembunuh atapun tunawisma seperti yang aku pikirkan. Dan juga sedikit kesal karena telah membuat jantungku hampir copot. Setelah keadaan mulai tenang, dan si kucing tampaknya sudah lebih kering dan kenyang di atas pangkuan pemuda itu. Aku teringat betapa laparnya diriku dan memutuskan memakan sebungkus roti satunya yang kubeli tadi, duduk di ujung bangku, dan meminum habis susu kotaknya. Pemuda itu tertawa menatapku yang entah kesal atau kelaparan, melahap habis semua makanan sampai tersedak-sedak. Setelah aku selesai dengan makananku. Pemuda itu tiba-tiba berkata, “Terima kasih. Aku tadi sedang berlari mengitari taman sampai aku menemukan kucing ini terjebak di selokan lalu menolongnya. dan sialnya, ternyata aku tidak membawa sepeser pun uang.” dengan ketus kujawab singkat, “Sama-sama.”

“Jangan salah paham, aku tidak berniat buruk.”

“Aku tahu”

“Lalu kenapa kau ketus begitu?”

“Benarkah? aku tidak merasa demikian.”

“Baiklah, lebih baik kita sudahi saja perdebatan ini. Ngomong-ngomong, kau ini wanita ketus yang baik hati juga ya.”

Antara bingung dengan ucapanya yang ambigu, entah mengolok atau memuji, “Ayolah, kenapa kau masih di sini? Bukankah kucing ini sudah kenyang? Apa lagi yang kau butuhkan? Kau menghancurkan keheningan yang seharusnya hanya menjadi milikku.”

“Begitukah? Maafkan aku.”

“Ya..”

“Apakah kau sering datang ke sini?”

“Ya, aku suka menghabiskan waktuku di tempat ini.”

“Kalau begitu kita akan sering bertemu, selamat tinggal..” Sambil melambaikan tangan dan melengang pergi, pemuda yang tidak aku kenali itu meninggalkan tanda tanya di kepalaku. Apa maksudnya kita akan sering bertemu? Orang aneh. “Huff..” aku menghela nafas. Hari yang panjang, sebaiknya aku segera pulang..

Bersambung…

Advertisements

Be Home for You

Photo by Bruno Salvadori on Pexels.com

how could you be home

for someone

if you could not be home

for your own

you expect a lover,

someone willing

to love you anyway

when you do not love yourself

the one you will for sure

spend the rest of your life with

love yourself

so people know how to love you

respect yourself

so people know how to respect you

how you treat yourself

is a way to show people

how to treat you

if you do not want to live

with yourself

who will?

Midnight Fight

Photo by edwin josé vega ramos on Pexels.com

12.27 am

i was lying on my bed

trying hard to sleep, then

i was startled of sounds

outside my room

i heard a woman,

couldn’t tell whether

she was a mother

a wife, or just a brokenhearted soul

yelling, cursing, in rage

a baby cried in hunger

or just scared

i couldn’t tell exactly

a man on a motorcycle

following them behind

begging her to stop

trying to calm her down

as i could hear

though those all happened in seconds

pain spilled into my room

i was wondering, what had happened

to that dear little family

i didn’t see them

but i could feel a great pain

in my chest

I couldn’t sleep that night

Hope they are doing fine now

Ocean Within

Photo by Oliver Sjöström on Pexels.com

“see deeper inside

ourselves

to know who we are,”

they said

there is an ocean

within me

if who i am

is down bellow there

inside an opened

treasure chest

covered by sand and mosses

of the sea

then it only takes my ability

of holding my breath

under the water

to figure out

the soul my body carrying

but you know what

ironically,

i don’t know

how to swim

What They Say

the things that seem small

those few words they said

which they never realized

could sink so deep into

your mind

the longer you tried to ignore it

the harder it came back to hit you

it’s bounced

You cried yourself to sleep

you promised yourself that night

that you would be alright

when the night out

but it was not as simple as that

the whole day

you ended up

wondering why

some people are so mean

to each other instead